Salah satu alasanku melepaskannya adalah karena aku takut ia akan pergi dariku. Aku tak meragukan cintanya, tapi aku meragukan alasan ia mencintaiku. Sebuah keraguan yang tak seharusnya memang, tapi itulah yang aku rasakan. Ia mengatakan pernyataan cintanya ketika ia selesai menceritakan kekecewaannya terhadap kekasihnya. Memang ia mengatakan ia jatuh cinta padaku ketika pertama kali kami bertemu, seperti halnya aku yang kagum padanya ketika pertama kali bertemu dengannya. Sebuah kebetulan yang telah dituliskan. Namun aku tak berharap banyak padanya, karena kemudian aku tahu ia telah memiliki kekasih.
Kemudian, hari itupun tiba..ketika kami melakukan sebuah perjalanan bersama dan memiliki waktu untuk berdua. Kesalahan itupun bermula. Ucapan manisnya tentang cinta, siapa yang sangka? Saat itu aku masih meragukannya, sampai ia berhasil meyakinkanku akan perasaannya. Hubungan yang tak seharusnya itupun terjadi. Sampai akhirnya, mengingat keadaaannya yang tengah kecewa akan kekasihnya, aku mulai meragukannya, meragukan alasannya mencintaiku. Cinta memang tidak butuh alasan, tapi aku takut ia memilihku bukan karena cinta yang suci, melainkan karena ia tengah kecewa dan aku muncul dalam kehidupannya di saat yang tidak tepat itu.
Setelah beberapa lama kami bersama, akhirnya aku memutuskan mundur dari rencana kami untuk terus bersama selamanya. Kecewa dan marah, pastilah itu yang dirasakannya. Aku hanya ingin ia bahagia, dan aku tahu sebenarnya ia bisa bahagia bersama kekasihnya sekarang, dan aku juga tahu jika kami bersama akan ada hati yang terluka dan akan ada yang terabaikan.
Aku yakin ia dapat bahagia dengan kekasihnya, sehingga aku takut ketika akhirnya kami bersama kemudian ia temukan kebahagiaan itu bersama kekasihnya aku takut ia akan meninggalkanku.
Bodoh? Mungkin, tapi sudah kuputuskan akan pergi dari hidupnya selamanya. Memang menyakitkan, tapi semoga ini akan membawa pada kebaikan bagi kami dan juga dia..atau tepatnya mereka.
Posted by Esa 
